FolksInsight.com - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8) pagi telah menyebabkan kerusakan parah pada ribuan bangunan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa kerusakan terbanyak terjadi di Kabupaten Ngada, dengan sedikitnya 32 satuan pendidikan terdampak, termasuk 17 sekolah yang mengalami rusak berat seperti SDI Ngelapadhi, SMPN 2 Bajawa Utara, dan SMPS Slamet Riyadi Soa. Selain sektor pendidikan, ribuan rumah warga juga dilaporkan rusak, tersebar di sejumlah kabupaten di Pulau Flores, seperti Manggarai, Manggarai Timur, Ende, Nagekeo, dan Sikka.
Hingga Senin (17/8), BNPB mencatat korban meninggal dunia mencapai 68 orang, dengan sebaran terbanyak di Kabupaten Manggarai (25 orang) dan Manggarai Timur (20 orang). Sementara itu, korban luka berat dan ringan masih terus didata. Pemerintah setempat telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari untuk mempercepat proses evakuasi, pencarian korban, dan penanganan pengungsi. Kerusakan infrastruktur yang meluas ini dipastikan berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya di sektor perdagangan dan jasa, karena banyak fasilitas umum dan rumah tinggal yang hancur.
Untuk mempercepat koordinasi penanganan darurat, BNPB mengaktifkan Pos Pendampingan Nasional (Pospenas) di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat. Bantuan logistik seperti paket sembako juga telah didistribusikan ke tujuh kabupaten terdampak, dengan rincian Manggarai 1.000 paket, Sikka 1.000 paket, Ende 725 paket, serta Manggarai Barat, Manggarai Timur, Ngada, dan Nagekeo masing-masing 550 paket. Dampak ekonomi dari gempa ini diperkirakan akan terasa dalam beberapa bulan ke depan, mengingat banyak warga kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian, terutama di sektor pertanian dan pariwisata.
Sumber: CNN Indonesia
Link Berita: CNN Indonesia


