Folksinsight.com – Di tengah kekhawatiran global
tentang kecerdasan buatan (AI) yang disebut-sebut mengancam profesi penerjemah,
Sony Novian, Ketua Umum Ikatan Agensi Jasa Bahasa (IKASA), tampil
membawa narasi yang berbeda. Dalam acara Temu Penerjemah Jawa Timur (TPJ)
2026 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sony menegaskan bahwa
industri jasa bahasa tidak sedang menuju kepunahan, melainkan sedang mengalami transformasi
mendasar.
Pernyataan
itu disampaikan Sony Novian saat menjadi pembicara dan ditemui wartawan di sela
kegiatan TPJ 2026 yang digagas oleh Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI)
Komisariat Daerah Jawa Timur.
“Banyak
laporan menyebut penerjemah sebagai profesi paling rentan terhadap AI. Tapi
yang sering luput adalah fakta bahwa yang tergantikan itu tugas-tugas
tertentu, bukan keseluruhan profesi,” ujar Sony.
Dari Kecakapan Bahasa ke Tanggung Jawab Profesional
Sony
menilai bahwa kecemasan terhadap AI muncul karena profesi penerjemah selama ini
terlalu lama dipersempit hanya pada kemampuan teknis berbahasa. Padahal, dalam
praktik industri, nilai penerjemah justru terletak pada penilaian, tanggung
jawab, dan pemahaman konteks—hal-hal yang tidak bisa digantikan mesin.
“AI
sangat bagus untuk kecepatan dan volume. Tapi ketika terjemahan menyangkut
risiko hukum, reputasi, keselamatan, atau etika, keputusan tetap harus dipegang
manusia,” jelasnya.
Menurut
Sony, masalah terbesar bukanlah AI, melainkan pola pikir lama yang masih
menempatkan penerjemah sebagai operator produksi, diukur dari jumlah kata,
tarif per jam, dan kecepatan kerja.
“Selama
penerjemah memposisikan dirinya hanya sebagai pengalih kata, ia akan selalu
berhadapan langsung dengan mesin dan harga murah. Tapi ketika ia memosisikan
diri sebagai penjaga makna, mitigator risiko, dan mitra strategis klien,
posisinya berubah total,” tegasnya.
Hierarki Nilai dalam Industri Jasa Bahasa
Dalam
pemaparannya di TPJ 2026, Sony Novian memperkenalkan cara pandang tentang lapisan
nilai (value layers) dalam industri jasa bahasa. Di lapisan terbawah,
penerjemah bersaing langsung dengan AI gratis dan otomatisasi. Namun semakin ke
atas, nilai dibangun melalui spesialisasi, sistem kerja, akuntabilitas, dan kepemimpinan
ekosistem.
“Yang
membuat seseorang tidak tergantikan bukanlah seberapa cepat ia bekerja, tapi
seberapa besar risiko yang bisa ia tanggung dan kelola,” ujar Sony.
Ia
mencontohkan perbedaan antara penerjemah yang menjual jasa “menerjemahkan dokumen”
dengan profesional yang menawarkan jaminan kepastian hukum, keamanan merek,
atau kepatuhan regulasi.
“Di era
kata-kata bisa dihasilkan dalam hitungan detik, yang dibeli klien bukan lagi
teks, tapi kepastian dan kepercayaan,” katanya.
AI sebagai Asisten, Bukan Pengambil Keputusan
Alih-alih
menolak teknologi, Sony justru mendorong penerjemah dan agensi bahasa untuk
mengadopsi strategi hibrida: memanfaatkan AI untuk efisiensi, namun
tetap mempertahankan otoritas manusia pada tahap interpretasi dan keputusan
akhir.

Ketua umum IKASA dan HIPPI DPC Jakarta Barat
“AI itu
seperti staf junior yang sangat cepat, tapi tidak bisa diserahi tanggung jawab.
Otoritas tetap ada di manusia,” ujarnya.
Menurut
Sony, pendekatan ini justru membuka peluang pertumbuhan baru, karena
memungkinkan profesional bahasa fokus pada aspek bernilai tinggi seperti
analisis konteks, komunikasi lintas budaya, dan pengelolaan risiko.
Bisnis, Etika, dan Nilai ‘Amal Usaha’
Sony juga
mengaitkan transformasi industri jasa bahasa dengan nilai etis. Ia
mengapresiasi konsep ‘amal usaha’ yang dipegang Universitas Muhammadiyah
Malang, bisnis sebagai perpanjangan misi dan nilai, bukan sekadar pencarian
keuntungan.
“Profesi
yang tidak mampu menopang kesejahteraan pelakunya tidak akan mampu melayani
masyarakat dengan baik. Harga yang adil, standar kualitas, dan etika kerja
bukan strategi bisnis semata, tapi amanah,” ujarnya.
Baginya,
keberlanjutan ekonomi dan integritas profesional bukan dua hal yang
bertentangan, melainkan saling menguatkan.
Ekosistem, Bukan Karier Sendiri-Sendiri
Sebagai Ketua
Umum IKASA, Sony Novian menegaskan bahwa masa depan industri jasa bahasa tidak
dibangun oleh individu yang berjalan sendiri-sendiri, melainkan oleh ekosistem
yang sehat—agensi, organisasi profesi, akademisi, dan pelaku industri.
“Networking
bukan soal jual diri. Dalam tradisi kita, itu ta’awun, saling menguatkan.
Reputasi dibangun dari kontribusi dan keandalan, bukan dari promosi kosong,”
katanya.
Ia
mendorong penerjemah untuk aktif berorganisasi, membangun sistem, dan berbagi
pengetahuan lintas generasi agar industri tidak kehilangan memori
institusionalnya.
Manusia Tetap di Pusat Masa Depan Industri
Menutup
refleksinya, Sony Novian menegaskan bahwa masa depan industri bahasa tetap human-led.
“AI bisa
memproses informasi, tapi tidak bisa memikul tanggung jawab. Ia tidak bisa
membangun kepercayaan, menanggung risiko, atau membuat keputusan etis,”
ujarnya.
Dalam
dunia yang semakin otomatis dan bising, Sony percaya peran penerjemah justru
akan semakin penting—sebagai penyedia kejelasan, makna, dan tanggung jawab.
“Yang
akan bertahan bukan yang paling cepat, tapi yang paling relevan,” pungkasnya.
(*)