00:00:00
-
-
NASIONAL Peristiwa

Andri Manik: Menghubungkan Dunia Usaha, Organisasi, dan Profesionalisme

Andri Manik: Menghubungkan Dunia Usaha, Organisasi, dan Profesionalisme

Sebagai pengurus aktif di HIPPI Jakarta Barat, Andri Manik memegang peran penting dalam menjaga tata kelola organisasi, khususnya dari sisi keuangan dan keberlanjutan program. Posisi Bendahara Umum, menurutnya, bukan hanya soal pencatatan angka, tetapi soal menjaga kepercayaan anggota dan arah gerak organisasi.

Folksinsight.com – Di tengah dinamika dunia usaha yang semakin kompetitif dan cepat berubah, Andri Manik memilih jalur yang tidak sekadar berorientasi pada pertumbuhan bisnis pribadi. Sebagai Bendahara Umum DPC Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Jakarta Barat dan pengurus Kamar Dagang dan Industri (KADIN) DKI Jakarta, Andri menempatkan dirinya pada persimpangan penting antara kepentingan pengusaha, profesionalisme, dan penguatan ekosistem ekonomi.

Baginya, organisasi bukan sekadar atribut jabatan, melainkan ruang strategis untuk memastikan dunia usaha berjalan sehat, beretika, dan berkelanjutan.

“Bisnis tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu terhubung dengan regulasi, sumber daya manusia, dan kepercayaan publik,” ujar Andri saat ditemui di sela kegiatan Temu Penerjemah Jawa Timur (TPJ) 2026 di Universitas Muhammadiyah Malang.

Pengusaha dan Tanggung Jawab Organisasi

Sebagai pengurus aktif di HIPPI Jakarta Barat, Andri Manik memegang peran penting dalam menjaga tata kelola organisasi, khususnya dari sisi keuangan dan keberlanjutan program. Posisi Bendahara Umum, menurutnya, bukan hanya soal pencatatan angka, tetapi soal menjaga kepercayaan anggota dan arah gerak organisasi.

“Organisasi pengusaha harus dikelola dengan prinsip yang sama seperti bisnis profesional: transparansi, akuntabilitas, dan visi jangka panjang,” tegasnya.

Keterlibatannya di KADIN DKI Jakarta memperluas perspektif Andri tentang tantangan dunia usaha di tingkat regional dan nasional. Di sana, ia berinteraksi dengan pelaku usaha lintas sektor dari UMKM hingga korporasi yang sama-sama menghadapi tuntutan efisiensi, digitalisasi, dan perubahan pasar.

Menurut Andri, organisasi pengusaha memiliki peran strategis sebagai jembatan antara pelaku usaha dan kebijakan publik, sekaligus sebagai ruang konsolidasi untuk membangun daya saing bersama.

Melihat Profesi sebagai Bagian dari Ekonomi

Pandangan Andri tentang dunia usaha tercermin jelas saat ia berbicara di forum TPJ 2026. Di hadapan para penerjemah dan akademisi, ia menegaskan bahwa jasa bahasa bukan sekadar layanan teknis, melainkan bagian dari rantai nilai ekonomi.

“Industri membutuhkan penerjemah yang memahami konteks bisnis. Bukan hanya akurat secara bahasa, tetapi juga paham nilai, risiko, dan tenggat,” katanya.

Dari sudut pandang pengusaha, Andri melihat bahwa kualitas komunikasi sering kali menjadi faktor penentu keberhasilan kerja sama bisnis. Kesalahan kecil dalam bahasa dapat berujung pada kesalahpahaman kontrak, rusaknya kepercayaan, bahkan kegagalan transaksi.

Bendahara umum HIPPI DPC Jakarta Barat Saat TPJ 2026

Bendahara umum HIPPI DPC Jakarta Barat Saat TPJ 2026

Karena itu, ia mendorong profesional termasuk penerjemah untuk melihat diri mereka sebagai mitra strategis dunia usaha, bukan sekadar penyedia jasa.

HIPPI dan KADIN sebagai Ruang Kolaborasi

Bagi Andri Manik, HIPPI dan KADIN bukan hanya wadah berhimpun, tetapi ruang kolaborasi lintas sektor. Di dalamnya, pengusaha belajar bahwa kekuatan ekonomi tidak dibangun secara individual, melainkan melalui jaringan, standar bersama, dan saling percaya.

“Organisasi pengusaha harus menjadi tempat bertemunya nilai bisnis dan etika. Kalau hanya mengejar keuntungan jangka pendek, ekosistem akan rapuh,” ujarnya.

Ia menilai bahwa keterlibatan aktif pelaku usaha dalam organisasi juga penting untuk memastikan regenerasi dan transfer pengetahuan. Dunia usaha, menurutnya, membutuhkan figur-figur yang tidak hanya sukses secara ekonomi, tetapi juga mau berbagi pengalaman dan membangun sistem.

Menjaga Profesionalisme di Tengah Perubahan

Di tengah disrupsi teknologi dan perubahan cara berbisnis, Andri Manik menekankan pentingnya profesionalisme dan adaptasi. Digitalisasi, kecerdasan buatan, dan percepatan informasi menuntut pelaku usaha dan profesional untuk terus belajar dan menyesuaikan diri.

Namun, ia mengingatkan bahwa teknologi tidak boleh menghilangkan prinsip dasar bisnis: kepercayaan, tanggung jawab, dan integritas.

“Teknologi mempercepat proses, tapi tidak menggantikan nilai. Keputusan bisnis tetap soal manusia dan dampaknya,” katanya.

Ekonomi yang Dibangun Bersama

Bagi Andri Manik, masa depan ekonomi Indonesia sangat bergantung pada seberapa kuat organisasi pengusaha menjalankan perannya. HIPPI dan KADIN, menurutnya, memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan pelaku usaha terutama di daerah tidak berjalan sendiri menghadapi perubahan.

Ia percaya bahwa ketika pengusaha, profesional, dan akademisi bergerak dalam ekosistem yang saling mendukung, pertumbuhan ekonomi tidak hanya akan terjadi, tetapi juga berkeadilan dan berkelanjutan.

“Bisnis yang kuat adalah bisnis yang tumbuh bersama lingkungannya,” ujarnya singkat.

Dan melalui peran aktifnya di HIPPI Jakarta Barat dan KADIN DKI Jakarta, Andri Manik terus menempatkan dirinya bukan hanya sebagai pelaku usaha, tetapi sebagai penjaga ekosistem ekonomi yang bekerja senyap, namun berdampak nyata.

#HIPPI #IKASA #TPJ #HPI #KADIN

Berita Terkait